[FF] Paper Plane (Let’s Meet Again) – Part IV: One of these Nights

Paper Plane

(Let’s Meet Again)

Part IV: One of these Nights

20180416_160550_0001

Author : Near

Genre : Sad-Romance, Angst/Hurt

Length : Mini chaptered (5 chapters)

Main Cast : Kang Seul Gi, Jeon Won Woo

Other Cast : Irene, Joshua, etc…

Baca juga di

Blog| Wattpad

[WARNING]

Near itu suka banget sama genre Angst, dan

Near cukup percaya diri kalau bikin fanfiction ber-genre Angst.

Jadi, jangan baper, ya.

***

Siapa itu Seulgi? Siapa itu Wonwoo?

Yeoreobun,

bagi yang ketinggalan, silahkan baca part dan/atau teaser sebelumnya!^^

| Teaser ver. | Part I | Part II | Part III |

Happy reading!

***

“기다림은 내겐 사소한 일일 뿐인 걸”

(gidarimeun naegen sasohan iril ppunin geol)

“Menunggu hanyalah hal sederhana buatku”

***

Seulgi mengangkat nomor internasional itu, “Hello?”

“Gom-ah.” suara yang dirindukannya.

“Wonwoo?” dan Seulgi mengenalinya.

“Hei, um, jam berapa ya di sana?” mula-mulanya dia, Wonwoo, berujar, “Sayang, apa kau sedang menungguku di sana? Di bandara? Aku sedang di New York, dan sekarang sudah tengah malam.”

“Wonwoo,”

“Sayang, maaf aku belum bisa pulang hari ini. Pulanglah terlebih dahulu, nanti ku kabari jika―”

“Wonwoo, kau lagi jet lag?”

“Uh?”

“Suaramu aneh ―apa kau kena jet lag?”

“Tidak, tidak.” Wonwoo segera menyangkal, “I’m fine, gwaenchaneunde ―jeongmal. Aku hanya―”

“Sayang, tapi suaramu parau sekali.”

Terdengar Wonwoo mendesah, nafasnya berhembus dengan beratnya. “Ok, sorry.” ralatnya, “Ya, aku kena jet lag. Beberapa rekanku juga. Untungnya kami masih punya waktu sedikit untuk istirahat ―seharusnya kami bisa kembali ke Korea dan sampai di sana hari ini juga. Jadi kami tidak buru-buru mengejar jam terbang dan kembali ke bandara Incheon.”

“Oh.” Seulgi tak bisa apa-apa, selain bergumam saja.

“Sayang, maaf, aku membuatmu harus menunggu lebih lama lagi.” Wonwoo kembali menyesal.

“Tidak, kesehatan kalian terpenting.” hibur Seulgi, yang tanpa sadar memelintir tali tasnya, “Istirahatlah ―aku akan selalu menunggumu.”

“Seulgi?”

“Mm?”

Mianhada.

Mianeul hajima.” kata Seulgi. Lalu dia berucap lagi dengan nada yang lebih ceria, “Wonwoo, aku menyayangimu!”

Kedengarannya Wonwoo terkekeh, “Gom-ah~..”

“Serius! Aku menyayangimu!”

“Mengaku sajalah ―kau mau aku bilang apa?”

“Wonwoo~~..” dan Wonwoo kembali tertawa mendengar aegyo sori-nya.

“Baiklah, aku akan mengatakannya.” ucap Wonwoo akhirnya, “Kang Seulgi, aku juga menyayangimu.”

“Ah~…” Seulgi bersuara seperti tersipu.

Wonwoo hanya terkekeh, membayangkan bagaimana wajah manis Seulgi yang bersemu merah ditambah aegyo-nya yang lucu ―pasti sangat menggemaskan!

“Sudahlah, katanya kau kena jet lag? Istirahat sana!” Seulgi berusaha mengakhiri obrolan.

“Serius? Kau tidak ingin berbicara denganku lebih lama?” goda Wonwoo.

“Ah, Yeowoo-ya!”

Wonwoo terkekeh lagi. “Mm. Kau juga ―istirahatlah, jangan menungguku terus di sana. Duduk terlalu lama juga capek, kan?” tanpa Wonwoo ketahui, Seulgi mengerucutkan bibirnya ―kecewa tertahan, “Jaga pola makanmu, ya. Jangan terlalu paksakan bekerja, nanti kau kelelahan. Ingat, kau juga butuh istirahat.

Dan terlebih lagi, jangan nakal, ya, Gom-ah.”

Bibir yang mengerucut itu perlahan tertarik ke samping kanan dan kiri, membentuk kurva manis dan mengundang warna merah muda bersemu di kedua pipinya.

“Iya, Yeowoo-ya.” jawab Seulgi.

“Anak pintar.” nada bass yang Seulgi rindukan itu. “Pulang, ya.”

“Iya.”

Jal ga.”

“Mm. Kau juga, jal ja.”

***

[Seulgi POV]

Aku, sambil terduduk sendirian di salah satu kursi kesayanganku di bandara Incheon, termangu sambil memainkan body ponselku ―seakan-akan menunggu seseorang menghubunginya.

Setiap bulan, kira-kira di tanggal ke tujuhnya, aku selalu duduk di sini sejak matahari terbenam selama beberapa jam. Seperti sebuah ritual yang ku lakukan selama bertahun-tahun, aku menunggu Wonwoo pulang mengudara di sini.

Ya, menunggu Wonwoo pulang.

Baca lebih lanjut

Iklan

[FF] Paper Plane (Let’s Meet Again) – Part III : Paper Plane Day

Paper Plane

(Let’s Meet Again)

Part III : Paper Plane Day

20180416_160550_0001

Author : Near

Genre : Sad-Romance, Angst/Hurt

Length : Mini chaptered (5 chapters)

Main Cast : Kang Seul Gi, Jeon Won Woo

Other Cast : Irene, Joshua, etc…

Baca juga di

Blog| Wattpad

[WARNING]

Near itu suka banget sama genre Angst, dan

Near cukup percaya diri kalau bikin fanfiction ber-genre Angst.

Jadi, jangan baper, ya.

***

Siapa itu Seulgi? Siapa itu Wonwoo?

Yeoreobun,

bagi yang ketinggalan, silahkan baca part dan/atau teaser sebelumnya!^^

| Teaser ver. | Part I | Part II |

Happy reading!

***

“기다림은 내겐 사소한 일일 뿐인 걸”

(gidarimeun naegen sasohan iril ppunin geol)

“Menunggu hanyalah hal sederhana buatku”

***

“… Terlepas dari dugaan sebelumnya yang mengatakan bahwa beliau penyebab human error yang menjatuhkan pesawat, kali ini kami akan membahas singkat mengenai profil pilot MG707, Kapten Jeon Wonwoo.”

“Kapten Jeon merupakan sosok yang sangat teliti dan berwawasan luas. Semasa akademiknya, dirinya banyak mendapatkan penghargaan dari berbagai kompetisi dan lomba. Karena prestasinya tersebut, Wonwoo muda mendapatkan tempat di Geum Hwa Airline sebagai pilot bahkan sebelum dirinya dinyatakan lulus dari sekolah khusus penerbangannya.”

“Wonwoo memang anak yang teliti, meski dia tidak banyak bicara tapi dia sangat pandai dan teladan. Dia suka olahraga dan sangat berambisi untuk menjadi seorang pilot. Selain itu, Wonwoo selalu mengisi waktu luangnya dengan membaca. Itu saja yang aku tau darinya.” ―Min Sun Hee, wali kelas Wonwoo di kelas 11.

“Prestasi dan pribadi Kapten Jeon yang pendiam dan teliti ini tak pernah luput darinya hingga ia menapaki karirnya sebagai pilot di Geum Hwa Airline.”

“Dia junior yang sangat rajin, dan dia selalu menyapa rekan-rekan kerjanya. Dia disiplin, teliti dan sangat mengutamakan keselamatan kerja. Aku sebagai seniornya sering merasa malu, karena bahkan dia yang waktu itu belum ada apa-apanya sudah menunjukkan kebaikan dan kebolehannya di Geum Hwa Airline. Meskipun junior, kami para senior justru belajar banyak darinya.” ―Kapten Park, senior sekaligus rekan kerja Wonwoo di Geum Hwa Airline.

“Aku baru sekali bertemu dengannya, ku rasa itu penerbangan pertama dan terakhir yang aku lakukan bersamanya. Seperti yang rekan-rekan katakan, Wonwoo sunbaenim memang sosok yang sangat rapi dan mengutamakan kepentingan bersama. Dia tidak pernah lupa untuk mengecek ini itunya sebelum lepas landas. Benar-benar teliti. Bahkan di penerbangan terakhirnya. Itulah kenapa, aku ―bahkan kami― sangat menentang pendapat mereka yang menyalahkan Kapten kami dalam kecelakaan ini.” ―Shim Ju Eun, pramugari Geum Hwa Airline.

“Dalam ruang lingkup keluarga, Kapten Jeon memang sosok yang pendiam namun penuh kasih sayang. Mengakui sering bertengkar semasa kecil, adik Kapten Jeon, Bohyuk, seringkali merindukannya setelah sang kakak mulai berkarir dan meninggalkan kampung halaman mereka di Changwon.”

Hyung selalu ingin membuat Ibu tersenyum. Kalau di luar mungkin dia sok keren, tapi kalau di rumah dia sebenarnya usil. Terlepas dari itu semua, Hyung adalah sosok panutanku, persis seperti Ayah kami. Mereka berdua benar-benar panutanku. Sebelum berangkat meninggalkan rumah di Changwon, Hyung berpesan padaku untuk selalu membahagiakan Ibu. Setiap kali ada kesempatan mengirim SMS atau chat, yang pertama ditanyakannya pasti selalu Ibu. Hyung selalu ingin membuat Ibu tersenyum dan lebih bahagia lagi.” ―Jeon Bohyuk, adik kandung Wonwoo.

“Dalam interview eksklusif kami bersama perancang busana muda yang merupakan kekasih dari Kapten Jeon, Kang Seulgi, profil tentang Kapten Jeon pun tidak jauh berbeda.”

“Wonwoo…, orang yang sedikit kaku, tapi hatinya penyayang ―terutama pada keluarganya. Dia selalu mengesampingkan kepentingannya sendiri untuk kepentingan bersama… Jujur, setiap kali berdebat dengannya, aku selalu kalah. Itu karena Wonwoo punya wawasan yang sangat luas. Mungkin orang-orang mengira dia pendiam, tapi sekalinya dia berbicara kau takkan bisa membalas ucapannya… Apapun yang dikatakannya selalu bermakna… Dia…, benar-benar sosok seorang kapten…, buatku…” ―Kang Seulgi, fashion designer.

“Masih dalam berita duka MG707, kita beralih ke kabar selanjutnya. Pemirsa, menganggap hukuman yang dijatuhkan pengadilan pada lima orang ahli mekanik tidak setimpal, beberapa anggota keluarga korban MG707 melakukan protes di depan gedung pengadilan. Tak hanya keluarga korban saja, namun beberapa partisipan dari berbagai kalangan juga menyampaikan pendapat mereka, yang menganggap hukuman berupa kurungan dua belas tahun penjara tersebut terlalu ringan, mengingat apa yang telah kelimanya lakukan telah menewaskan 190 nyawa sekaligus dalam sebuah kecelakaan tragis.

Berawal dari ketidakadilan ini, munculah sebuah gerakan #WithMG707 yang meramaikan dunia maya. Para netizen memposting gambar pesawat kertas berwarna merah muda dengan tagar #WithMG707 di setiap akun SNS mereka, dan menyerukan keadilan untuk para korban dan keluarga yang ditinggalkan.”

Baca lebih lanjut

[FF] Paper Plane (Let’s Meet Again) – Part II : Missunderstanding

Paper Plane

(Let’s Meet Again)

Part II : Missunderstanding

20180416_160550_0001

Author : Near

Genre : Sad-Romance, Angst/Hurt

Length : Mini chaptered (5 chapters)

Main Cast : Kang Seul Gi, Jeon Won Woo

Other Cast : Irene, Joshua, etc…

Baca juga di

Blog| Wattpad

[WARNING]

Near itu suka banget sama genre Angst, dan

Near cukup percaya diri kalau bikin fanfiction ber-genre Angst.

Jadi, jangan baper, ya.

***

Siapa itu Seulgi? Siapa itu Wonwoo?

Yeoreobun,

bagi yang ketinggalan, silahkan baca part dan/atau teaser sebelumnya!^^

| Teaser ver. | Part I |

Happy reading!

***

“기다림은 내겐 사소한 일일 뿐인 걸”

(gidarimeun naegen sasohan iril ppunin geol)

“Menunggu hanyalah hal sederhana buatku”

***

“… Di belakang saya saat ini telah berdiri beberapa posko darurat khusus bagi Tim SAR yang telah mengevakuasi jenazah penumpang maupun awak pesawat MG707 dan, pemirsa sekalian, kami―”

“…, kecelakaan ini menewaskan sebanyak 180 penumpang serta 10 kru pesawat yang tadinya berencana terbang―”

“…, Angkatan Udara menyatakan bahwa tragedi MG707 ini menjadi kecelakaan pesawat terburuk dalam sejarah penerbangan Korea Selatan―”

“…, telah teridentifikasi tiga jenazah di mana dua di antaranya adalah penumpang dan satunya adalah seorang pramugari dari Geum Hwa Airline yang―”

“…, Pemerintah Korea Selatan memerintahkan agar Tim SAR mengevakuasi seluruh korban, dan juga mengevakuasi setidaknya sebagian besar bangkai pesawat―”

“…, juga dibentuk tim khusus yang akan mencari keberadaan black box yang saat ini belum juga ditemukan―”

“…, menjanjikan pada seluruh keluarga korban―”

Irene bisa melihat, bahkan dari punggungnya saja, Joshua terlihat begitu berduka. Sejak ia bangun tidur, yang menyambut Irene adalah suara-suara buruk itu. Memang, sebenarnya Joshua tidak bisa tidur semalaman dan mungkin saja di paginya dia menyalakan televisi lalu menonton berita.

Diam-diam dari ambang pintu kamar mereka, Irene ikut merasakan kepedihan. Semua berita itu hanya menjadi duka buatnya, juga buat Joshua.

Sweetie?” kaget Joshua, tak sengaja merasakan kehadiran seseorang di belakangnya, dan menemukan Irene berdiri tak bergeming di ambang pintu.

Segera Joshua matikan televisi itu. Namun mengejutkan, “Nyalakan saja.” perintah Irene tanpa bergerak seinci pun. Meski tadinya merasa janggal, Joshua pun menuruti kemauan Irene. Dia menyalakan kembali televisi yang menyiarkan kabar duka itu.

Kabar duka bagi Korea Selatan.

Joshua mendatanginya, menghampiri tubuhnya, lalu memeluknya sayang. “Irene,” bisiknya setelah mengecup pucuk kepalanya.

“Apa kau tidak merasa kehilangan teman masa kecilmu?” pandangan Irene kosong.

Lelaki itu menghela nafas. “Jangan bersedih, sayang.” diusapnya lembut rambut pirang tu.

“Ada yang lebih bersedih sekarang, Josh.” lalu Irene menatap pria yang memeluknya, “Seulgi ―dia sangat berduka.”

Joshua mengangguk sendu.

“Ayo kita temui dia.”

“Tapi, Irene,”

“Aku janji aku takkan menangis.”

Joshua menatapnya dalam-dalam. Otaknya terus mengajukan banding. Namun pancaran lembut sepasang mata itu tak mampu membuatnya menolak.

“Bersiap-siaplah,” suruh Joshua ―yang berarti iya.

Baca lebih lanjut

[FF] Paper Plane (Let’s Meet Again) – Part I : Bad News

Paper Plane

(Let’s Meet Again)

Part I : Bad News

20180416_160550_0001

Author : Near

Genre : Sad-Romance, Angst/Hurt

Length : Mini chaptered (5 chapters)

Main Cast : Kang Seul Gi, Jeon Won Woo

Other Cast : Irene, Joshua, etc…

Baca juga di

Blog| Wattpad

[WARNING]

Near itu suka banget sama genre Angst, dan

Near cukup percaya diri kalau bikin fanfiction ber-genre Angst.

Jadi, jangan baper, ya.

***

Siapa itu Seulgi? Siapa itu Wonwoo?

Yeoreobun,

bagi yang ketinggalan, silahkan baca part dan/atau teaser sebelumnya!^^

| Teaser ver. |

Happy reading!

***

“기다림은 내겐 사소한 일일 뿐인 걸”

(gidarimeun naegen sasohan iril ppunin geol)

“Menunggu hanyalah hal sederhana buatku”

***

Pagi yang sibuk, hari yang sibuk. Dengan tatanan rambutnya yang mulai berantakan, sesekali digigitnya pensil itu karena habis sudah kedua tangannya yang saling sibuk bekerja. Belum lagi ponsel yang kadang dijepit telinga dan pundaknya, menunggu yang ditelepon menjawab panggilannya.

Seketika kepenatan pagi di ruangannya itu sirna. Morning voice itu mulai menghapus beban paginya, suara bass-nya menyambut.

“Hei,”

“Hei,” balas gadis itu, bahkan di tengah rumitnya tumpukan kertas di atas mejanya saat ini, dia masih bisa bergurau dengan lawan bicaranya.

Mwohae?

“Menggambar.” tanpa sadar, kurvanya merekah.

“Mm?” sahut suara bass di balik telepon, “Sibuk, huh?”

“Tidak,” gadis itu menjepit ponsel dengan pundaknya, “baru bangun tidur?”

“Hu-uh,”

“Dasar kukang.”

Ya~~

Gadis itu tertawa singkat. “Aku sudah menyelesaikan sketsa keenam, sekarang aku sedang mengerjakan yang ketujuh.”

“Kau terlalu bekerja keras untuk hari penting itu.”

“Jangan banyak bicara, kau yang harus memilih salah satu di antaranya ―turuti saja perkataanku.”

“Hei, Seulgi,”

“Ng?”

“Makan sianglah denganku, sebelum ku tinggalkan kau besok.”

“Memangnya kau sudah bangun dari tempat tidur?”

“Uh…, itu…,”

Seulgi tersenyum, “Ku hitung sampai lima. Satu…, dua…, tiga…, empat…,”

“Iya, iya, oke, bawel. Oke. Jangan tutup teleponnya.”

Terkikik gadis itu mendengarnya.

“Jangan lupa pakai bajumu.”

“Aku tidur dengan pakaian utuh semalam, Gom-ah.”

Keojitmal.

“Oke. Aku ketauan.”

***

“Sudah jadi resiko kekasihnya pilot ditinggal terbang.”

Wonwoo hampir tersedak siang itu gara-gara celetukan Seulgi. Baru saja ia lahap es krim green tea di hadapannya, Seulgi sudah membuatnya terhentak. Wonwoo tersenyum tipis.

Ya, kau ini kenapa, sih?” Seulgi menghapus noda hijaunya green tea pada bibir itu.

“Ucapanmu itu lucu.” dalih Wonwoo, lalu menyuapi gadis di hadapannya dengan es krimnya. “Kau pasti sering merasa kesepian karenaku.”

“Kalau boleh jujur, sih…, iya…” Seulgi mengerucutkan bibirnya, manis sekali ―Wonwoo menyukainya, “Tapi itu sudah jadi tuntutan.” dengan bibir itu, ditatapnya Wonwoo.

“Kasihan,” ditepuknya kepala Seulgi seenaknya.

“Masa cuma kasihan?” gadis itu makin mencondongkan bibirnya, kali ini seiringan dengan tangannya yang mulai menghancurkan menara es krimnya.

“Aku tau kau tidak akan menikung.”

“Itu sudah jelas ―dan pasti.” Seulgi melahap es krimnya.

Wonwoo menyeka helaian rambut Seulgi yang menutupi sebagian kecil wajahnya. “Kau kelihatannya bekerja keras hari ini.” katanya, khawatir, “Sisihkan dulu saja proyek ‘Tujuh Sketsa Pilihan’-mu itu, Seulgi. Oktober masih jauh, kau juga disibukkan dengan brand barumu.”

Seulgi tersenyum, “Bukan apa-apa.” katanya, “Kau sendiri? Apa belum dapat libur panjang?”

Wonwoo terkekeh. Ada kalanya Seulgi seperti anak kecil, ada kalanya Seulgi terlihat dewasa sesuai umurnya. Namun siang ini, Seulgi kelihatan manja seperti anak kecil. Hanya satu yang diinginkannya dari Wonwoo : waktu.

“Sabarlah, Teddy Bear. Hibernasimu akan segera usai.” Wonwoo menyantumkan helaian rambut itu pada telinga Seulgi.

“Benarkah?” Seulgi sumringah, pertanda apa yang diinginkannya akan segera terwujud. “Gidae.” gumamnya sambil menyendok es krimnya beberapa kali, hingga tanpa sadar ―sangking girangnya― es krim itu berceceran di sekitar mulutnya.

“Lihat siapa yang hari ini jadi anak kecil?” goda Wonwoo, Seulgi menatapnya.

Namun lelaki itu tak mengizinkannya menatap lebih lama. Wonwoo menyapu bersih noda itu –di bibir gadisnya—dengan mulutnya, Seulgi terkejut bukan main.

Seorang Jeon Won Woo yang pendiam tak biasanya seagresif ini padanya, apalagi ini kafe ―tempat umum lebih tepatnya. Wonwoo adalah tipe yang pasif, yang lebih senang melakukannya di tempat yang pribadi. Namun hari ini, lelaki itu berani-beraninya bangkit dari tempat duduknya dan dengan seenaknya menghapus noda es krim di sekitar mulut Seulgi dengan mulut dan lidahnya.

“Jangan kaget begitu,” tepis Wonwoo, begitu selesai melakukannya Seulgi menatapya canggung. “Gak suka, ya?”

Ani,” Seulgi memperbaiki penampilannya, “hanya…, kaget…”

“Tentu saja, kau pasti tau ―aku bukan tipe agresif seperti itu.” Wonwoo menatap gadisnya lekat-lekat seakan tak ingin kehilangan dia, “Tapi khusus untuk hari ini saja, aku ingin melakukannya.”

Seulgi paham, mungkin karena lelaki itu akan meninggalkannya lepas landas dari daratan makanya Wonwoo bertingkah laku seperti itu padanya. Dia bisa memakluminya.

“Jadi, kapan tepatnya kau libur panjang?”

“Hei, kita sudah bahas itu tadi,”

“Apa sebelum hari ulangtahunmu?”

“Seulgi,”

“Ayolah, Yeowoo-ya, aku tidak sabar lagi.”

***

Pagi itu terasa biasa saja. Cahaya mentari yang menyusup seenaknya ke dalam kamarnya, ini pasti ulahnya Seulgi. Harumnya aroma pancake yang menyeruak, mengundangnya untuk keluar dari kamar dan menyambut pagi, ini juga pasti ulahnya Seulgi. Dan ketika sampai di dapur, dia disambut pemandangan seorang gadis berambut panjang yang membelakanginya, pastilah dia Seulgi.

Semua terlihat seperti biasanya.

“Hei,” gadis itu tersenyum padanya.

Wonwoo langsung menyambar pinggangnya, cara khasnya berterimakasih pada gadis yang telah membangunkan tidurnya dengan caranya yang khas.

“Siap untuk hari ini?” tanya gadis itu, dilihatnya Wonwoo masih mengerjap-ngerjapkan mata, “Ayolah, bangun, Kukang.”

“Seulgi, please.” gerutu Wonwoo, “Dasar Beruang…” gumamnya.

Pagi masih pagi buta, belum banyak orang yang terbangun, salah satunya Wonwoo ―yang semalam kedapatan beraksi nakal. Pantas sajalah kalau dia belum sepenuhnya terbangun.

Diacaknya rambut Wonwoo itu asal, lelaki itu hanya mendengus.

Ya, Gom-ah,” gerutunya dengan morning voice.

“Suaramu parau sekali.” komplain Seulgi, setelah meletakan pancake di atas piring, ia segera mengambil segelas air untuk Wonwoo.

Ketika lelaki itu meneguknya, Seulgi menyiapkan sarapan di meja makan. Wonwoo pun bersiap duduk di kursinya.

“Kau serius memilih yang ketujuh dan yang ketujuh?” pertanyaan Seulgi disusul anggukan Wonwoo ―yang tidak sadar kalau rambutnya berdiri.

Wae?” tanya Wonwoo.

“Hanya memastikan,” Seulgi melahap pancake-nya, “kalau kau memang sudah yakin memilih keduanya, maka hari ini aku akan mulai mengerjakannya.”

Wonwoo tersenyum sambil mengunyah, “Kau sudah bekerja keras.” katanya.

Seulgi cuma nyengir. “Dihabiskan, ya, sarapannya. Perjalananmu hari ini panjang sekali, jangan sampai di tengah penerbangan kau malah kelaparan.” candanya.

Lelaki itu terkikik, “Jangan bergurau, Gom-ah.” katanya, Seulgi menertawainya.

***

Jemari manisnya merapatkan jas itu, menata dasi itu, dan merapikan lencana itu. Hampir setiap kali keberangkatannya, Seulgi akan melakukan hal yang sama padanya.

“Jam berapa pesawatnya berangkat?” tanya Seulgi.

“Masih lama, tapi aku harus berangkat lebih pagi untuk briefing.” ucap Wonwoo setelah mengecup bibir itu.

Seulgi mengenal betul siapa itu Jeon Wonwoo. Dia sosok lelaki yang penuh tanggung jawab dan tegas, dingin, irit senyum, irit bicara namun sebenarnya dia berhati lembut dan penyayang. Wonwoo adalah sosok teliti yang tidak pernah mengabaikan hal-hal sekecil apapun.

Pernah beberapa kali Seulgi bertemu rekan kerja Wonwoo, mereka mengakui bahwa Wonwoo adalah sosok yang patuh dan sangat teliti, padahal dia bukan senior, malah para senior belajar banyak hal darinya. Wonwoo sangat mementingkan SOP dan tidak pernah lari dari tanggung jawab. Dia adalah orang yang haus akan pengetahuan.

Dia beruntung mendapatkan Wonwoo.

“Kau yakin bisa menungguku?” tanya Wonwoo. Seperti biasa, sebelum berangkat Wonwoo selalu menatap gadis itu lekat-lekat. Dan mengucapkan kata-kata khasnya.

Seulgi tersenyum, memeluk tubuhnya sendiri yang dibaluti bathrobe. “Menunggu sudah menjadi kebiasaanku, sudah menjadi hal biasa.” senyumnya.

Wonwoo mengusap kepala Seulgi. “Maaf, aku selalu meninggalkanmu sendirian. Aku tau kau kesepian―”

“Dan kau tak perlu khawatir, karena aku selalu duduk manis menantimu.” tukas Seulgi kemudian, berhasil merekahkan senyum di wajah Wonwoo seiringan, sambil menyapu bibir gadis itu dengan jemarinya.

Karena kata-kata itu, Wonwoo kembali mencium bibir itu sebagai ucapan terima kasih. Wanita seperti Seulgi memang sosok yang sangat cuek pada laki-laki, namun ketika hatinya luluh dia akan menjadi pasangan yang sangat setia.

Dia beruntung mendapatkan Seulgi.

Gadis itu mengangkat tangan, mengacungkan kelima jemarinya di samping pelipis kanannya, memberi hormat pada kapten. Kelakuan Seulgi itu selalu mendapat cengiran dari Wonwoo, yang akan membalasnya dengan hormat yang sama.

“Selamat lepas landas, Kapten Jeon Wonwoo.” cengir Seulgi ―menggemaskan. “Semoga penerbanganmu menyenangkan.”

Wonwoo menyambutnya dengan pelukan hangat dan kecupan di dahi. Dengan segera ia merebut topi khasnya dari atas meja dan menutupi kepalanya dengan itu.

“Aku akan segera kembali.” pamit Wonwoo.

Baca lebih lanjut

[FF] Paper Plane (Let’s Meet Again) – teaser

Paper Plane

(Let’s Meet Again)

Teaser ver.

20180416_160550_0001

Author : Near

Genre : Sad-Romance, Angst/Hurt

Length : Mini chaptered (5 chapters)

Main Cast : Kang Seul Gi, Jeon Won Woo

Other Cast : Irene, Joshua, etc…

Baca juga di

Blog| Wattpad

[WARNING]

Near itu suka banget sama genre Angst, dan

Near cukup percaya diri kalau bikin fanfiction ber-genre Angst.

Jadi, jangan baper, ya.

***

“기다림은 내겐 사소한 일일 뿐인 걸”

(gidarimeun naegen sasohan iril ppunin geol)

“Menunggu hanyalah hal sederhana buatku”

***

Kang Seul Gi, seorang fashion designer muda dan berbakat. Meski orangtuanya hanya penjahit dan dirinya berasal dari keluarga sederhana di pedesaan, Seulgi begitu gigih meraih apa yang diinginkannya. Dia mati-matian memperjuangkan mimpinya. Dan berkat kerja kerasnya itulah sekarang ia bisa menjadi seorang fashion designer di mana setiap busana rancangannya selalu diminati masyarakat luas. Tak hanya di Korea Selatan, tapi hingga manca negara.

Dijuluki sebagai gadis tomboy yang cuek terhadap lawan jenis, akhirnya Seulgi menemukan tambatan hatinya di sebuah acara amal yang digelar di sebuah hall terbuka. Saat itu, busana-busana rancangannya dikenakan oleh setiap pengisi acara, dan salah satu perusahaan penerbangan Korea Selatan ikut berpartisipasi dalam acara amal tersebut.

Di saat itulah Seulgi bertemu seorang pilot muda berprestasi bernama Jeon Won Woo, yang datang sebagai salah satu perwakilan dari perusahaan penerbangannya. Dari yang awalnya hanya bertukar kontak, sering bertemu tanpa sengaja, hingga akhirnya mereka menjalin hubungan lebih lanjut dan tinggal seatap.

***

“Hei,”

“Hei,” balas gadis itu, bahkan di tengah rumitnya tumpukan kertas di atas mejanya saat ini, dia masih bisa bergurau dengan lawan bicaranya.

Mwohae?

“Menggambar.” tanpa sadar, kurvanya merekah.

“Mm?” sahut suara bass di balik telepon, “Sibuk, huh?”

“Tidak,” gadis itu menjepit ponsel dengan pundaknya, “baru bangun tidur?”

“Hu-uh,”

“Dasar kukang.”

Ya~~

Gadis itu tertawa singkat. “Aku sudah menyelesaikan sketsa keenam, sekarang aku sedang mengerjakan yang ketujuh.”

“Kau terlalu bekerja keras untuk hari penting itu.”

“Jangan banyak bicara, kau yang harus memilih salah satu di antaranya ―turuti saja perkataanku.”

“Hei, Seulgi,”

“Ng?”

“Makan sianglah denganku, sebelum ku tinggalkan kau besok.”

“Memangnya kau sudah bangun dari tempat tidur?”

“Uh, itu…,”

Seulgi tersenyum, “Ku hitung sampai lima. Satu…, dua…, tiga…, empat…,”

“Iya, iya, oke, bawel. Oke. Jangan tutup teleponnya.”

Terkikik gadis itu mendengarnya.

Memiliki pasangan yang jam terbangnya padat memang sudah menjadi resiko Seulgi yang selalu ditinggal sendirian di apartemen mereka. Seulgi pun terbiasa menunggu Wonwoo untuk waktu yang sangat lama.

***

Pagi itu terasa biasa saja. Cahaya mentari yang menyusup seenaknya ke dalam kamarnya, harumnya aroma pancake yang menyeruak dan pemandangan seorang gadis berambut panjang di dapur. Semua terlihat seperti biasanya.

“Hei,” gadis itu tersenyum padanya.

Wonwoo langsung menyambar pinggangnya, cara khasnya berterimakasih pada gadis yang telah membangunkan tidurnya dengan caranya yang khas.

“Siap untuk hari ini?” tanya gadis itu, dilihatnya Wonwoo masih mengerjap-ngerjapkan mata, “Ayolah, bangun, Kukang.”

“Seulgi, please.” gerutu Wonwoo, “Dasar Beruang…” gumamnya.

Pagi masih pagi buta, belum banyak orang yang terbangun, salah satunya Wonwoo ―yang semalam kedapatan beraksi nakal. Pantas sajalah kalau dia belum sepenuhnya terbangun.

“Jam berapa pesawatnya berangkat?” tanya Seulgi.

“Masih lama, tapi aku harus berangkat lebih pagi untuk briefing.” ucap Wonwoo setelah mengecup bibir itu.

Seperti biasa, sebelum berangkat Wonwoo selalu menatap gadis itu lekat-lekat. Dan mengucapkan kata-kata khasnya.

“Kau yakin bisa menungguku?” tanya Wonwoo.

Seulgi tersenyum, memeluk tubuhnya sendiri yang dibaluti bathrobe. “Menunggu sudah menjadi kebiasaanku, sudah menjadi hal biasa.” senyumnya.

Wonwoo mengusap kepala Seulgi. “Maaf, aku selalu meninggalkanmu sendirian. Aku tau kau kesepian―”

“Dan kau tak perlu khawatir, karena aku selalu duduk manis menantimu.” tukas Seulgi kemudian, berhasil merekahkan senyum di wajah Wonwoo seiringan.

Karena kata-kata itu, Wonwoo kembali mencium bibir itu sebagai ucapan terima kasih. Wanita seperti Seulgi memang sosok yang sangat cuek pada laki-laki, namun ketika hatinya luluh dia akan menjadi pasangan yang sangat setia.

Dia beruntung mendapatkan Seulgi.

“Aku akan segera kembali.” pamit Wonwoo.

***

“Sudah jadi!” seru Seulgi, lalu menorehkan beberapa catatan dalam memo, yang kemudian ia rekatkan bersama gambar desain gaun ketujuh tersebut di mading khususnya ―sebagai pengingat.

Dengan riang, Seulgi melangkah ke ruang penjahitan. Di sana beberapa busananya sedang sibuk dikerjakan beberapa karyawannya.

“Karena pemesanan meningkat, jadi hari ini produksi harus ditambah lagi.” ucap seorang wanita berkacamata itu.

“Tidak ku sangka, Baby Bear akan laku keras juga.” tukas Seulgi.

“Banyak yang menyukai bahan dan desainnya.” ucap wanita itu, “Selain desainnya yang manis dan unik, bahan Baby Bear sangat cocok untuk kulit bayi dan balita yang sangat sensitif. Itulah mengapa banyak sekali yang menyukai brand baru kita ini.”

Seulgi tersenyum. “Bahan babyterry ini memang khusus, dan memang dikhususkan bagi kulit anak-anak yang sensitif.” katanya, “Lalu bagaimana dengan Dressing―”

Dering ponselnya tak sengaja memotong ucapannya. Seulgi pun terpaksa menyela waktu demi menjawab panggilan dari nomor yang tidak dikenalnya tersebut.

“Oh, Omonim, apa kabar! Sudah lama tidak bertemu, apakah ini nomor barumu?” ucap Seulgi sambil tersenyum, ”Ini aku Seulgi, tapi aku sedang di butik, Omonim, Wonwoo sudah berangkat―”

Namun lengkungan manis itu tak bertahan lama di wajah cantiknya. Begitu mendengar suara wanita paruh baya itu menangis, Seulgi terhentak.

Omonim?” nadanya terdengar cemas.

“Sayang, ku mohon jangan kau minta aku ulangi perkataanku ini, karena bahkan aku sendiri tidak mampu menerima faktanya, tapi…, puteraku…,”

Omonim,

Baca lebih lanjut

[FF] 먹자! Let’s Eat! Part II

먹자!

Let’s Eat!

Let's Eat!.jpg

Author : Near

Genre : School-Life, Romance, Fluff

Length : Two shot

Cast : Kang Seulgi, Jeon Wonwoo

Other cast : Wendy Son, Lee Jihoon

***

13483064_1404590212900752_3638440283611778220_o

Dengan dress selutut berwarna oranye, gadis itu berjalan riang bersama tas tangannya. Seperti biasa, dia menelusuri lorong yang kemarin dia lalui dengan tergesa, namun untuk hari ini ia melewatinya dengan ringan.

Kembali Seulgi memasuki kamar rawat kemarin ―kamar rawat Wonwoo. Digesernya sedikit pintu itu, kemudian kepalanya melongok di antara celah pintu. Niatnya ingin memberi kejutan untuk Wonwoo, namun justru Seulgi lah yang terkejut.

Kamar itu kosong, tidak ada penghuninya. Tidak ada Wonwoo, bahkan sedikitpun barangnya tidak ada di sana. Seulgi panik, dia memasuki kamar itu untuk memastikan apa yang dilihatnya tidak salah.

Dan Wonwoo memang tidak ada di kamar itu.

“Apa aku salah masuk kamar? Apa aku salah?” Seulgi panik, “Tidak! Ini benar kamar Wonwoo, tapi ke mana dia?!”

Tak mampu menahan kekhawatirannya, Seulgi berlari-lari kecil menuju meja resepsionis dan mencari tau yang terjadi.

Ganhosa-nim, apa di kamar sebelah benar ruang rawat inap Jeon Wonwoo?” tanya Seulgi sesegera mungkin pada seorang perawat di balik counter.

Dan wanita itu mendengarkan dengan baik, “Dia sudah tidak ada, Agassi.” jawabnya datar.

Entah karena kekhawatirannya yang berlebihan atau memang Seulgi hanya kurang sarapan hari ini, jadi pikiran Seulgi semakin kacau. Dia terkejut bukan main mendengar jawaban perawat tersebut.

“Won…, woo…?” lirihnya

Dan tentu saja Seulgi sudah salah paham. ”Bu-bukan begitu maksud saya, Agassi.” buru-buru perawat itu meluruskan, “Maksud saya, pasien di ruang rawat inap nomor tujuh bernama Jeon Wonwoo sudah tidak ada di sana, sudah tidak ada di rumah sakit ini.” jelasnya, “Pagi tadi, Ibunya sudah membawanya pulang ke rumah, jadi pasien akan dirawat di rumahnya.”

Mendengar keterangan yang dijabarkan wanita itu membuat Seulgi berulangkali menghela nafas lega. Dia merutuk dalam hati, bisa-bisanya Seulgi ―kelewat― berprasangka buruk seperti tadi ―Wonwoo baik-baik saja!

Baca lebih lanjut

[FF] 먹자! Let’s Eat! Part I

먹자!

Let’s Eat!

Let's Eat!.jpg

 

Author : Near

Genre : School-Life, Romance, Fluff

Length : Two shot

Cast : Kang Seulgi, Jeon Wonwoo

Other cast : Wendy Son, Lee Jihoon

***

13490612_1403783962981377_1624679894556004515_o

Dengan tergopoh-gopoh, gadis berseragam biru itu berlari di antara lorong rumah sakit. Sesekali tasnya yang melorot dilonjakkan hingga kembali ke punggungnya. Meski dua tas tangannya semakin menghambat langkah-langkahnya, tetapi gadis itu tidak menyerah.

Sampailah ia di sebuah kamar rawat, tempat yang sedari tadi dia tuju. Tanpa salam, tanpa permisi, langsung saja gadis itu menggeser pintu, hingga membuat si penghuni serta merta menatapnya.

Lelaki itu, pemuda tanpa eksrpesi itu. Ya, benar, dia memang di sana. Duduk bersandar pada head bed-nya, dengan kaki ditekuk dan memangku sebuah buku, serta kacamata bulat yang membuat kesan angkuh dan dingin di wajahnya berkurang. Selang infus menancap pada punggung tangan kirinya, tak lupa hari ini ia kelihatan berbeda dengan baju khas dari rumah sakit.

“Seulgi?” sahut pemuda itu pada si gadis, Kang Seulgi.

Baca lebih lanjut